Hasil UTBK 2026 di Pematangsiantar Anjlok, Hanya 2 Sekolah Masuk 1.000 Besar Nasional, Pengamat Sebut Ada Penurunan Daya Saing

Dua sekolah di Pematangsiantar tercatat dalam daftar 1.000 besar nasional berdasarkan nilai UTBK 2026.
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:48:31 WIB

PEMATANGSIANTAR — Dua sekolah dari Pematangsiantar tercatat dalam daftar 1.000 SMA terbaik se-Indonesia yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berdasarkan nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Capaian ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah kota yang selama ini mengusung visi pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama.

SMA Swasta Budi Mulia menjadi sekolah dengan torehan tertinggi dari kota tersebut, mengantongi nilai UTBK 569,863 dan menempati peringkat nasional ke-134. Sementara itu, SMA Negeri 1 Pematangsiantar masih bertahan di jajaran sekolah unggulan daerah, namun belum berhasil menembus kelompok teratas secara nasional.

Dominasi Medan dan Toba di Peringkat Atas Sumut

Data yang dirilis Kemendikdasmen menunjukkan sekolah-sekolah dari Medan, Toba, hingga Tapanuli Utara masih mendominasi peta sekolah terbaik di Provinsi Sumatera Utara. Posisi Pematangsiantar yang hanya menyumbang dua nama dalam daftar tersebut menjadi perhatian, mengingat sejarah panjang kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan di provinsi itu.

Keterwakilan yang minim ini dinilai kontras dengan reputasi yang selama ini dibangun. Publik mulai mempertanyakan apakah predikat kota pendidikan masih relevan disematkan pada daerah yang dikenal dengan julukan "Bangun Siantar" tersebut.

Kritik Pengamat: UTBK Bukan Satu-Satunya Ukuran Mutu

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nasional, Bismar Sibuea, mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada satu indikator tunggal dalam menilai kualitas pendidikan. Ia menegaskan hasil UTBK hanyalah salah satu alat untuk membaca tren capaian akademik siswa.

"Kalau dilihat dari statistik hasil UTBK, memang dapat disimpulkan capaian siswa di Pematangsiantar menurun dibanding tahun sebelumnya. Namun saya tidak sepakat jika kualitas pendidikan hanya diukur dari hasil UTBK," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).

Urgensi Evaluasi Visi Pembangunan SDM

Meski mengkritik penggunaan UTBK sebagai tolok ukur tunggal, Bismar menilai hasil tersebut tetap layak menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota Pematangsiantar. Hal ini terutama karena pemerintah daerah secara eksplisit menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas pembangunan.

Menurutnya, tujuan pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan nilai tinggi atau peringkat akademik. Keberhasilan pendidikan seharusnya diukur dari kemampuan lulusan dalam beradaptasi, berkontribusi di tengah masyarakat, serta berkembang dalam kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

"Tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia, bukan sekadar menghasilkan angka atau peringkat. Orang sukses belum tentu berasal dari sekolah besar atau kampus ternama," katanya.

Ia menambahkan, penurunan peringkat ini bisa menjadi momentum bagi pemangku kebijakan untuk mengevaluasi strategi peningkatan mutu pembelajaran di tingkat SMA. Sinergi antara dinas pendidikan, sekolah, dan orang tua dinilai menjadi kunci untuk mengembalikan daya saing pelajar Pematangsiantar di tingkat provinsi maupun nasional.

Reporter: Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah