Investasi Properti China Anjlok 19,2% ke Level Terendah, Sektor Teknologi Jadi Penopang Baru Ekonomi
SUMATERA UTARA — Badan Statistik Nasional China (NBS) melaporkan penurunan investasi properti mencapai 19,2% secara tahunan (year on year/yoy) dalam tujuh bulan pertama 2026. Angka ini menjadi rekor terendah sepanjang sejarah pencatatan, menegaskan sektor yang pernah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi itu kini menjadi beban terbesar.
Produksi material konstruksi seperti semen juga terus menyusut, mengindikasikan aktivitas pembangunan fisik yang belum pulih. NBS menyebut perekonomian China masih "stabil", namun mengakui lingkungan eksternal "rumit dan bergejolak" serta permintaan domestik yang masih lemah. Sejumlah perusahaan disebut menghadapi kesulitan operasional.
Manufaktur Canggih dan Robotika Gantikan Peran Properti
Pergeseran struktur ekonomi China semakin nyata. Di tengah investasi yang melambat di hampir semua sektor, belanja modal (capital expenditure/capex) untuk industri manufaktur peralatan transportasi—mencakup kereta api, perkapalan, dan kedirgantaraan—melonjak 18,7% pada Januari-Juli 2026. Angka ini menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh sektor industri lainnya.
Investasi pada produsen komputer, peralatan telekomunikasi, dan elektronik juga naik 7,8% pada periode yang sama. Data produksi menunjukkan akselerasi yang lebih tajam: produksi robot industri melonjak lebih dari 30% pada Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara produksi sirkuit terpadu meningkat hampir 21%.
Pola ini menegaskan strategi Beijing untuk beralih dari pertumbuhan yang ditopang sektor properti menuju industri teknologi, area yang juga menjadi pusat persaingan antara China dan Amerika Serikat.
Fondasi Pemulihan Masih Rapuh
Meski data manufaktur canggih impresif, NBS memberikan catatan hati-hati. Dalam pernyataan resmi yang menyertai rilis data, NBS menyatakan fondasi perekonomian untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan pertumbuhan masih perlu diperkuat. Pernyataan ini muncul setelah lembaga tersebut mengakui adanya kesulitan operasional yang dihadapi sejumlah perusahaan.
Pelemahan di sektor properti memberikan efek rambat yang luas, mulai dari pendapatan pemerintah daerah dari penjualan tanah hingga permintaan bahan baku seperti semen dan baja. Kondisi ini menjadi kontras dengan kinerja sektor teknologi yang justru menunjukkan pertumbuhan produksi dua digit.
Bagi pelaku bisnis dan investor, data ini mengirim sinyal jelas: peluang pertumbuhan di China kini berada di sektor manufaktur berteknologi tinggi, bukan lagi di pengembangan properti. Namun, kelemahan permintaan domestik yang masih berlanjut tetap menjadi risiko utama bagi keberlanjutan pemulihan ekonomi China secara keseluruhan.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini tampaknya masih berada dalam masa transisi yang tidak mudah, di mana sektor lama menyusut cepat sementara sektor baru belum cukup besar untuk sepenuhnya mengkompensasi penurunan tersebut.