NAVIGASI.CO.ID — Penyakit jantung koroner tidak muncul tiba-tiba, melainkan didahului sejumlah faktor risiko yang sebagian bisa dikendalikan. Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat 29.734.406 kasus penyakit jantung dengan biaya pelayanan mencapai Rp 17,35 triliun.
Dokter spesialis jantung Nizamuddin Ubaidillah mengingatkan penyakit jantung koroner tidak muncul begitu saja. Kondisi itu selalu didahului sejumlah faktor risiko yang saling berkaitan, bukan berdiri sendiri.
Faktor risiko tersebut terbagi dua: yang tidak dapat diubah dan yang masih bisa dikendalikan. Pembagian ini penting diketahui supaya upaya pencegahan lebih terarah.
Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah
Usia masuk kelompok pertama. Risiko penyakit jantung koroner meningkat seiring bertambahnya usia seseorang.
Jenis kelamin juga berperan. Pada perempuan yang sudah menopause, risiko meningkat karena hormon estrogen yang selama ini memberi perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular menurun drastis.
Riwayat keluarga melengkapi daftar ini. Faktor keturunan turut memperbesar peluang seseorang mengalami penyakit jantung koroner.
Faktor Risiko yang Masih Bisa Dikendalikan
Nizamuddin, dokter dari RS Dustira Cimahi, Jawa Barat, menekankan kelompok faktor risiko inilah yang bisa dimodifikasi sebagai upaya preventif. Tekanan darah tinggi, diabetes, kurang aktivitas fisik, obesitas, dan gangguan kadar lemak darah atau dislipidemia termasuk di dalamnya.
"Pada faktor risiko yang dapat diubah, maka bisa diupayakan untuk menjaga tekanan darah terkontrol lalu gula darah terkontrol, rajin berolahraga, kemudian buat yang obesitas ayo menurunkan berat badan lalu mengobati dislipidemia," kata Nizamuddin.
Beban Pembiayaan Jantung di BPJS Kesehatan
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menyebut penyakit jantung menjadi salah satu penyakit dengan pembiayaan terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Sepanjang 2025, tercatat 29.734.406 kasus terkait penyakit jantung dengan total biaya pelayanan mencapai Rp 17,35 triliun.
Prihati menilai penguatan upaya promotif preventif bisa menekan beban pembiayaan tersebut. Langkahnya dimulai dari gaya hidup sehat: rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, dan tidak merokok.
Deteksi Dini Atrial Fibrilasi di Puskesmas
BPJS Kesehatan mendorong sekitar 23 ribu fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki elektrokardiogram (EKG). Alat ini memungkinkan dokter umum mendeteksi gangguan irama jantung, termasuk atrial fibrilasi (AF).
Prihati menyebut AF sebagai salah satu faktor risiko utama stroke. "Karena ini adalah faktor risiko utama stroke. Jadi kalau sudah ketahuan atrial fibrilasi diberi pengencer darah dengan dosis tertentu di puskesmas," ujarnya.
Selama ini sebagian kasus AF baru diketahui setelah pasien mengalami stroke. Deteksi dini di layanan primer diharapkan mencegah kondisi itu berkembang menjadi stroke sekaligus menekan biaya pelayanan kesehatan.
"Kadang-kadang di negara kita ini atrial fibrilasi diketahui setelah terjadi stroke. Stroke baru dicari, oh ternyata AF. Nah ini yang kita kurangi angka-angka seperti itu supaya promotif preventif lebih kuat, biaya kesehatan akan lebih rendah," kata Prihati.
Langkah Praktis Menekan Risiko
- Jaga tekanan darah tetap terkontrol.
- Kendalikan kadar gula darah.
- Rutin berolahraga.
- Turunkan berat badan bila obesitas.
- Obati dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah.
- Terapkan pola makan sehat dan berhenti merokok.
Sebagian faktor risiko jantung koroner memang tidak bisa dihindari, seperti usia dan keturunan. Namun tekanan darah, gula darah, berat badan, dan kebiasaan merokok masih bisa dikendalikan.
Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter untuk penilaian risiko yang lebih personal, terutama bila punya riwayat keluarga penyakit jantung.