Malindo Coffee Kemas Kopi Ikuti Karakter Wisatawan

Penulis: Redaksi
Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:22:50 WIB

LOMBOK, 9 Oktober 2026 - Gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memberikan harapan besar kepada para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal.

Sebagai ajang balap motor paling bergengsi di dunia yang akan digelar di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 9–11 Oktober 2026, para pebisnis UMKM berkesempatan untuk melebarkan pasarnya secara lebih luas.

Rohaniah, pemilik Malindo Coffee, mengaku hadirnya kegiatan bertaraf internasional ini bukan semata soal membuka lapak dan mengejar transaksi.

Ia berharap bisa memberikan cerita dari setiap produk yang dijual. Sebagai salah satu destinasi super prioritas Indonesia, ia sangat berharap para wisatawan dan penonton MotoGP ini bisa mendapatkan kenangan lebih kuat terhadap Mandalika.

“Mandalika adalah destinasi super prioritas yang menarik wisatawan global. Wisatawan dengan mobilitas tinggi ini membutuhkan suvenir dan kopi yang disajikan dan dikemas praktis. Oleh karena itu, Malindo Coffee berinovasi menciptakan stik kopi pertama di Lombok. Kami berharap saat dunia melihat Mandalika, mereka juga membawa produk lokal dari Malindo," kata Rohaniah saat diwawancara, Kamis (8 /10/2026).

Rohaniah mengatakan kopi bermerek Malindo Coffee ini, sengaja dikemas ringkas dan mudah dibawa.

Kemasan dibuat mengikuti karakter wisatawan yang datang ke Mandalika dalam waktu singkat, namun senantiasa mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang.

Cerita serupa datang dari M. Arif Yani, pemilik Sate Ibu Lilik. Ia mengatakan ajang di Mandalika menjadi kesempatan memperkenalkan sate lilit ayam kepada wisatawan sekaligus mendorong menjadi bagian dari pengalaman kuliner khas Lombok yang bisa dibawa pulang.

Bagi usaha kecil, mendapatlan fasilitas membuka usaha di area Festival di seputaran Pertamina Mandalika International Circuit, menjadi pintu pemasaran lebih luas kepada konsumen dari berbagai penjuru dunia.

UMK yang bergabung di Rumah BUMN Pertamina ini merasa siap menarik pengunjung, karena telah memperoleh pelatihan, dan pendampingan dari Pertamina.

"Hadirnya ajang ini menjadi ruang perkenalan. Harapan kami pengalaman merasakan makanan lokal ini dapat berbuah rekomendasi yang disebarkan satu orang ke orang lain," tuturnya.

Logika serupa dibawa Estuaria Salt. Produk ini tidak sekadar menjual garam, tetapi mengolahnya menjadi berbagai produk seperti aromaterapi, bath salt, massage oil, dan candle.

Andika Satriawan, sang pemilik, mengatakan ada misi ekonomi sekaligus sosial di balik produknya. "Kami ingin mengangkat garam lokal, handcrafted dari ibu-ibu para nelayan," katanya.

Bagi Estuaria Salt, nilai lokal bukan sekadar cerita pemasaran, namun juga pemberdayaan dan kolaborasi. Garam petani yang sebelumnya dihargai sekitar Rp3.000 per kilogram, dibeli sebagai bahan pembuatan aromaterapi sehargaa Rp5.000–Rp6.000 per kilogram untuk kemudian diolah menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Produk yang dipasarkan di momentum Pertamina Grand Prix of Indonesia berada pada rentang Rp20.000 hingga Rp100.000.

Tiga produk UMKM lokal tadi sedikit menggambarkan betapa kegiatan olahraga bertaraf internasional bisa memberikan dampak lebih luas dan besar bagi warga sekitar.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan hadirnya Pertamina Grand Prix of Indonesia ini menjadi salah satu momentum yang membawa nama Indonesia ke perhatian dunia melalui olahraga motorsport.

Baron berharap nilai sebuah event internasional ini tidak berhenti hanya di lintasan motor saja.

"Ada ekonomi yang bergerak di sekelilingnya, ada produk yang memperoleh panggung, dan ada pelaku usaha yang mendapatkan kesempatan untuk memperluas jejaring," katanya.

Hadirnya ajang ini, kata Baron, telah menempatkan produk lokal tidak harus menunggu konsumen datang ke daerah asalnya.

Sebaliknya, ajang ini membuat konsumen yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia bahkan dari luar negeri, datang mencari beragam produk UMKM.

"Di situlah event internasional menemukan makna ekonominya yang paling dekat dengan masyarakat, dimana hadirnya kegiatan ini telah memberikan jalan kepada usaha-usaha kecil yang ada di sekitarnya," kata Baron.

Reporter: Redaksi